Wednesday, April 17, 2013

Liberte, Egalite, Fraternite

Surat Paulus kepada Filemon memang pendek, mungkin terpendek di antara kitab-kitab Alkitab lainnya. Namun demikian, isi surat ini luar biasa dahsyatnya.

Sebagaimana bisa terlihat dalam isi surat, latar belakang interaksi Paulus dengan Filemon lewat surat ini adalah larinya Onesimus, budak Filemon, dari sang tuan. Ada indikasi bahwa kesalahan Onesimus bukan hanya terletak pada pelariannya, tetapi kemungkinan juga menyangkut kerugian materi yang ia sebabkan (ay. 18). Sebagaimana menjadi kebiasaan pada masa itu, Onesimus pergi berlindung pada sosok yang dianggap punya status lebih tinggi daripada tuannya. Pilihannya jatuh pada rasul Paulus, pemimpin jemaat.

Pada zaman itu perbudakan adalah sebuah praktek yang umum dan dianggap lazim. Kepemilikan seorang tuan atas diri budaknya bisa demikian mutlak, hingga mencakup hak mencabut nyawa. Karena itu betapa radikalnya apa yang disampaikan Paulus kepada Filemon ini:

"Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik sebagai manusia maupun di dalam Tuhan." (Flm. 15-16)

Perhatikan frase dia dipisahkan sejenak dari padamu. Dalam tata bahasa Yunani yang digunakan dalam Perjanjian Baru, kata kerja pasif tanpa subjek pelaku seringkali secara rahasia merujuk pada Allah. Jadi, keterpisahan sejenak Onesimus dari Filemon, dilihat Paulus sebagai sesuatu yang mungkin adalah bagian dari rencana Tuhan. Rencana untuk mengadakan apa? Supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih. Loh, bukankah dalam analisis latar belakang surat tadi Onesimus terindikasi bersalah? Ya, tapi Paulus justru membebaskannya! Liberte!

Apa status Onesimus setelahnya, menurut himbauan rasul Paulus? Bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara. Saudara? Saudara dalam Tuhan sajakah maksudnya? Dalam pengertian bahwa semua orang percaya memang status rohaninya setara, tapi selama masih di bumi tetap tajam dalam stratifikasi, begitukah? Sama sekali tidak! Karena rasul Paulus mengatakan, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. Dengan kata lain, baik secara jasmani, maupun secara rohani; baik secara material maupun spiritual; baik secara teologis maupun sosial. Inilah fraternite sejati!

Liberte, egalite, fraternite. Kemerdekaan, kesetaraan, persaudaraan. Ketiganya merupakan semboyan revolusi Perancis. Ketiganya pula sesungguhnya merupakan tema surat Filemon. Liberte, pembebasan budak. Fraternite, persaudaraan rohani maupun jasmani. Lalu bagaimana dengan egalite?

Perhatikan ayat 22:

"Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan padamu."

Siapakah Filemon, sampai-sampai rohaniwan sekaliber rasul Paulus menaruh harapnya pada doa jemaat awam ini? Bukankah dalam tradisi Yahudi dan agama-agama kuno, seorang imam atau agamawan berperan sebagai pengantara Allah dengan manusia? Paulus meniadakan kesenjangan itu. Filemon, 'orang biasa' pun bisa jadi perantara karya Allah pada rasul seperti dirinya. Egalite!

Liberte, egalite, fraterniteVive la revolution!

No comments:

Post a Comment

Post a Comment